Gatot: Syahganda cs Tolak Penangguhan Penahanan

  • Whatsapp
Spread the love

Jakarta, Sobatjuang.id – Presidium Kesatuan Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Gatot Nurmantyo menceritakan bahwa Syahganda Nainggolan, Muh. Jumhur Hidayat dan Anton Permana menolak upaya penangguhan penahanan. Penolakan itu menunjukkan bahwa ketiganya adalah pejuang sejati.

“Saya secara pribadi siap menjadi penjamin, namun upaya penangguhan penahanan ditolak sama Syahdanga, Anton, dan Jumhur. Ketiganya kompak menolak. Ini yang membuat kami salut,” jelas Gatot dalam sambutannya di acara peluncuran dan bedah buku ‘Pemikiran Sang Revolusioner Dr Syahganda Nainggoan,” di Jakarta, Jumat (28/11/2020).

Menurut Gatot, alasan penolakan itu karena ada syarat yang tidak bisa diterima Syahganda cs. Ada tiga syarat penangguhan penahanan, yakni pertama tidak akan melarikan diri. Kedua, tidak akan menghilangkan barang bukti, dan ketiga berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang sama.

“Syarat ketiga itu yang mereka tolak,” jelas Gatot. Bagi mereka apa yang dilakukan mereka, yang dituduhkan melanggar UU, adalah dalam rangka kebenaran. Syahganda cs merasa lebih baik dipenjara ketimbang dilarang menyuarakan kebenaran.

Peluncuran buku ini juga menandakan bahwa idealisme dan pemikiran Syahganda tidak akan luntur meski dipenjara. “Masih di penjara, tapi buku diluncurkan. Ini salah satu bukti bahwa perjuangan tidak bisa dipadamkan. Semakin ditekan semakin menjadi-jadi,” jelas Gatot.

Gatot mengucapkan selamat kepada Syahganda atas peluncuran buku tersebut. “Perjuangan belum selesai, ini baru dimulai. Saya sampaikan perjuangan yang dimulai dengan niat karena Allah SWT, tidak akan bisa dihentikan oleh manusia,” jelasnya.

Buku ini juga menjadi bukti bahwa Syahganda adalah sosok aktivis yang pemikir, atau inetelektual aktivis. Hal senada juga disampaikan oleh Din Syamsuddin dalam sambutan secara virtual via aplikasi zoom. “Syahganda adalah intelektual sejati. Intelektualisme bukan sekadar intelektual, tapi juga dilaksanakan dalam aksi nyata,” jelas Din.

Sejumlah tokoh dalam diskusi buku yang digelar secara virtual seperti Hariman Siregar, Ahmad Yani, Joko Edi, Habib Muchsin, dan teman-teman aktivis angkatan ’80 dan angkatan ’90 lainnya. (Red)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *