Majelis Dzakir Buka Kajian tentang Perselisihan Yahudi-Nasrani

  • Whatsapp
Spread the love

Jakarta, Sobatjuang.id – Setelah hampir 2 pekan liburan Syawal, pengajian rutin Mingguan Majelis Dzakir kembali dibuka secara norma. Kajian Ahad yang dibimbing secara rutin oleh Ustadz Andri Gunawan, Lc, M.Phill seperti biasanya dimulai dengan tadarusan Al Quran yang kemudian dilanjutkan dengan tafsirnya.

Read More

Mengawali kajiannya, Ustad Andri mengutip syair Imam Syafi’i  yang mengatakan bahwa ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang. Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja. Bila kamu menganggap menulis adalah keahlian khusus atau kebutuhan kamu harus melihat lagi ke buku pelajaranmu betapa semua ilmu yang kamu dapat dipelajari dari tulisan-tulisan di dalam buku-buku itu. Maka jelaslah menulis bukan sebuah keahlian khusus tapi sebuah keahlian hidup.

“Pesan ini dimaksudkan agar kita tidak lupa dengan  setiap ilmu yang kita dapat selain nantinya menjadi kenang-kenangan jika kelak catatan ini dibukukan oleh Majelis Dzakir,” ujar Ustadz Andri di Sekretariat Majelis Ilmu Dzikir di Gg. RH Ismail RT 15 RW 03 Nomor 18, Kelurahan Jatinegara Lio, Kec. Cakung, Jakarta Timur, Ahad (30/5/2021).

Dalam pantauan sobatjuang.id, Majelis Dzakir yang kebanyakan jamaahnya dari kaum ibu ini  pada Ahad yang cerah ini membahas Surat Al Baqarah ayat 113-119.  Dalam tafisrannya, Ustad yang jebolan Kampus di Pakistan ini mengatakan surat ini bercerita tentang adanya bantah membantah antara  orang Yahudi dengan orang Nasrani.    

Dan orang Yahudi berkata, “Orang Nasrani itu tidak memiliki sesuatu (pegangan),” dan orang-orang Nasrani (juga) berkata, “Orang-orang Yahudi tidak memiliki sesuatu (pegangan),” padahal mereka membaca Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak berilmu, berkata seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili mereka pada hari Kiamat, tentang apa yang mereka perselisihkan. (S. 2 : 113)

Dalam suatu riwayat, kata Ustadz Andri dikemukakan, ketika orang-orang nashara Najran menghadap kepada Rasulullah saw., datanglah padri-padri yahudi. Mereka bertengkar dihadapan Rasulullah saw. berkatalah Rafi’ bin Khuzaimah (yahudi) : “Kamu tidak berada pada jalan yang benar, karena menyatakan kekufuran kepada Nabi Isa dan kitab Injilnya”. Seorang dari kaum nashara Najran membantahnya dengan mengatakan : “Kamu pun tidak berada di atas jalan yang benar, karena, menentang kenabian Musa dan kufur kepada Taurat”. Maka Allah menurunkan ayat tersebut diatas (S. 2 : 113), sebagai jawaban atas pertengkaran mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.

وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ مَّنَعَ مَسٰجِدَ اللّٰهِ اَنْ يُّذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗ وَسَعٰى فِيْ خَرَابِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ مَا كَانَ لَهُمْ اَنْ يَّدْخُلُوْهَآ اِلَّا خَاۤىِٕفِيْنَ ەۗ لَهُمْ فِى الدُّنْيَا خِزْيٌ وَّلَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
‏﴿۱۱۴

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang di dalam masjid-masjid Allah untuk menyebut nama-Nya, dan berusaha merobohkannya? Mereka itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang berat. (S. 2 : 114) sehubungan dengan larangan kaum Quraisy kepada Nabi saw. untuk shalat dekat Ka’bah didalam Masjidil-haram.Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id atau ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *