Reunian Tokoh Mega-Bintang di Solo Galang Pembentukan Poros Perubahan

  • Whatsapp
Spread the love

Sobatjuang.id, Solo – Sejumlah tokoh nasional dan aktivis  kembali berkumpul di kota Solo, Jawa Tengah pada Minggu (5/6). Mereka datang untuk menghadiri HUT 25 Tahun kelompok bernama  “Mega-Bintang.

HUT Mega-Bintang yang ini dikemas dengan Dialog Nasional bertema “Kekuatan Rakyat vs Oligarki dan KKN” diadakan di Gedung Umat Islam Surakarta. Sejumlah tokoh dan aktivis nasional hadir menjadi narasumber telah hadir di Solo sejak Sabtu malam (4/6). Mereka menggelar pertemuan tertutup di rumah Modrik Sangidu (78 tahun), tokoh Mega-Bintang.

Kepada pers, Modrik Sangidu mengatakan bahwa para tokoh dan aktivis yang diundang yaitu  Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti, dan para aktivis seperti Rocky Gerung, Ferry Juliantono, Syahganda Nainggolan, KH Syukri Fadholi, hingga Lieus Sungkarisma, Kolonel (Purn) Sugeng Waras dan tokoh Pro Demokrasi (Prodem) Andrianto yang juga merupakan salah satu pendukung Mega- Bintang Jakarta tahun 1997.

Pada Sabtu (4/6/2022) Para aktivis tersebut berkumpul mendiskusikan ‘bagaimana Indonesia ke depan?’.

Pertemuan informal ini di kediaman Mudrick Setiawan Malkan Sangidu, Ketua Dewan FC Pembina Mega Bintang, di Jalan Slamet Riyadi, Purwosari, Kecamatan, Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Mega Bintang siap sebagai lokomotif perubahan melawan ketidak adilan dan kezaliman,” ungkap Mudrick SM Sangidu Sabtu (4/6/2022) di Solo.

Mudrik berharap Mega Bintang harus siap membela wong cilik yang jadi korban ketidakadilan.

Dalam Dialog Nasional pada Minggu, Ketua DPD AA Lannyala Mataliti mengugat Mahkamah Konstitusi (MK) untuk membatalkan Presiden Threshold (PT)  yang saat ini 20 persen menjadi nol persen PT. Ini diperlukan agar ada banyak calon Presiden sesuai dengan tuntunan demokrasi dan bukan tekanan oligarkhi.

“Jika MK tidak mau mengabulkan maka lebih baik MK dibubarkan saja,” tegas Lanyala.

Desakan 0 persen ini juga disampaikan tokoh oposisi Rocky Gerung. RG bicara soal politik yang menguntungkan Oligarkys dengan PT 20 % sehingga membuat Capres jadi terbatas. “PT harus nol % jika tidak rakyat akan mendukung PPP (Partai People Power) dan Rakyat sah lakukan LBP (Legal Boikot Pemilu),” ujar RG.

Mewakili tokoh Islam, Sekjen PP Syarikat Islam berbicara tentang kekuatan Nasionalis dan Islam sebuah keniscayaaan yg harus bersatu. Kini rezim malah jadi Islamphobia dan membenturkan, mengadu domba rakyat.

Sementara bagi Dr. Syahganda Nainggolan mengulas sekilas oligarkhi dari era Sukarno, kolonial Belanda pihak Oligarkys sudah berkuasa dan sekarang makin kuasa dan makin tamak menguasai politik dan ekonomi.”Rakyat saatnya bangkit melawan Oligharkys.”

Adapun bagi Moh Jumhur Hidayat, Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) membahas soal ketidakadilan yang dialami kaum Buruh dari era penjajahan sampai kini yang tidak ada perubahan.

“Saatnya semua elemen bersatu dan bergerak lawan Oligarkhis,” pungkas Jumhur yang mantan Kepala BNP2TKI ini.

HUT Mega-Bintang yang dihadiri ratusan tokoh pergerakan lintas kota. Turut hadir Boyamin Saiman,  dari Semarang,  Sutoyo Abdi, dan dari Bandung, Harlan.  

HUT Mega-Bintang yang ini dikemas dengan Dialog Nasional bertema “Kekuatan Rakyat vs Oligarki dan KKN” diadakan di Gedung Umat Islam Surakarta. Sejumlah tokoh dan aktivis nasional hadir menjadi narasumber telah hadir di Solo sejak Sabtu malam (4/6). Mereka menggelar pertemuan tertutup di rumah Modrik Sangidu (78 tahun), tokoh Mega-Bintang.

Kepada pers, Modrik Sangidu mengatakan bahwa para tokoh dan aktivis yang diundang yaitu  Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti, dan para aktivis seperti Rocky Gerung, Ferry Juliantono, Syahganda Nainggolan, KH Syukri Fadholi, hingga Lieus Sungkarisma, Kolonen (Purn) Sugeng Waras dan tokoh Pro Demokrasi (Prodem) Andrianto yang juga merupakan salah satu pendukung Mega- Bintang Jakarta tahun 1997.

Dalam Dialog Nasion, Ketua DPD AA Lannyala Mataliti mengugat Mahkaah Konstitusi untuk membatalkan Presiden Threshold (PT)  yang saat ini 20 persen menjadi nol persen PT. Ini diperlukan ada ada banyak calon Presiden sesuai dengan tuntunan demokrasi dan bukan tekanan oligarkhi.

“Jika MK tidak mau mengabulkan maka lebih baik MK dibubarkan saja,” tegas Lanyala.

Desakan 0 persen ini juga disampaikan tokoh oposisi Rocky Gerung. RG bicara soal politik yang menguntungkan Oligarkys dengan PT 20 % sehingga membuat Capres jadi terbatas. “PT harus nol % jika tidak rakyat akan mendukung PPP (Partai People Power) dan Rakyat sah lakukan LBP (Legal Boikot Pemilu),” ujar RG.

Mewakili tokoh Islam, Sekjen PP Syarikat Islam berbicara tentang kekuatan Nasionalis dan Islam sebuah keniscayaaan yg harus bersatu. Kini rezim malah jadi Islamphobia dan membenturkan, mengadu domba rakyat.

Sementara bagi Dr. Syahganda Nainggolan mengulas sekilas oligarkhi dari era Sukarno, kolonial Belanda pihak Oligarkys sudah berkuasa dan sekarang makin kuasa dan makin tamak menguasai politik dan ekonomi.”Rakyat saatnya bangkit melawan Oligharkys.”

Adapun bagi Mohj Jumhur Hidayat, Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) membahas soal ketidakadilan yang dialami kaum Buruh dari era penjajahan sampe kini yang tidak ada perubahan.

“Saatnya semua elemen bersatu dan bergerak lawan Oligarkhis,” pungkas Jumhur yang mantan Kepala BNP2TKI ini.

HUT Mega-Bintang yang dihadiri ratusan tokoh pergerakan lintas kota. Turut hadir Boyamin Saiman,  dari Semarang,  Sutoyo Abdi, dan dari Bandung, Harlan.  

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *