Jokowi Makin Gaspol

  • Whatsapp
Spread the love

Andrianto

Ketua Gerpol (Gerakan Reformasi Politik) Indonesia

Acara temu Relawan Jokowi di Ancol, Sabtu (11/6/2022) telah membuat publik makin skeptis dengan pengerahan massa Relawan yang mirip dengan Apdesi. Aura panggungnya semacam kebulatan tekad.

Tadinya setelah acara Projo di Magelang cuman test in water. Untuk uji animo publik terutama stake holder Partai Politik Pendukung terutama PDIP.

Manuver Relawan ini jelas menunjukkan bahwa nyatanya publik sudah mahfum Jokowi memang sudah tidak peduli lagi dengan kenaikan barang yang meroket tinggi sejak lebaran lalu seperti harga telur, cabai, minyak goreng masih tinggi.

Namun rakyat sejauh ini tidak bereaksi seperti di Sri Langka dan tentu saja Jokowi makin GASPOL.

Jokowi  terus bermanuver untuk presure kandang banteng yang masih enggan beri tiket Ganjar. Berkejaran dengan waktu pihak Oligarkhy enggan beri duit banyak bila tiket Ganjar belum jelas.

Oligarkhy tidak mau kecolongan lagi ketika Pilpres lalu PDIP di last minute dukung Maruf Amin. Figur antagonis buat pihak Oligarkhy.

Jadi siasat Jokowi ada 2.

1.Terus lakukan penggalangan masa untuk pengkondisian Capres. Publik di beri voeding (baca: tekanan lunak) pencapresan supaya PDIP segera tentukan sikap.

2.Ciptakan sekoci Partai jika PDIP benar benar tidak beri tiket ke Ganjar.

Buat Jokowi tiket Ganjar ini penting dipastikan. Tetap utamanya dari PDIP sebagai the rulling party karena Succes Story pilpres lalu yang kotor (pilpres yang curang dan menghalalkan segala cara). Biar ada legitimasi publik.

Lantas bagaimana dengan PDIP sedari awal melarang para kadernya bicara Capres. Persoalannya Jokowi bukanlah kader atau bahasanya Petugas partai. Terbukti di kabinet jilid 2 ini semua urusan di pegang duet  Luhut dan Erik Thohir. Kader PDIP tidak di =beri tempat yang layak. Bahkan tak satupun Menko dan Departemen yang strategis.

Jokowi nampaknya mengeliminir kader PDIP sehingga Sentral kuasa tunggal di tangannnya.

Sepertinya Jokowi merasa lebih hebat. Yang di pilih rakyat 2 kali sedang Mega gagal 2 kali.

Jokowi mesti pastikan kekuasan tunggal di tangannya supaya mengamankan project seperti IKN , Kereta Cepat Jkt-Bandung,  dll.. Juga kelanggengan dinastinya.

Pelajaran terhambatnya rekomendasi sang Anak dalam Pilwalkot jadi pembelajaran buat karir sang Anak kelak biar mulus.

Lantas bagaimana dengan statmennya bahwa dalam satu keluarga bisa saja berbuat nakal?

Ada bisik bisik gegara ke tengsin meloby Mantan Presiden yang juga pemilik Partai agar mendukung Ganjar-Erik. Dan Mantan Presiden itupun lantas sowan ke Petinggi Partai yang selama ini publik melihat tidak miliki hub yang baik. Makanya kedatangannya pada peresmian Masjid At taufik..

Bisa saja mengklarafikasi sambil declare. Anak nakal ini memberi warning bila keinginannya kelak tidak di penuhi. Akan berwujud menjadi pembangkangan. Dengan dukungan Oligarkhy yang memang sebal sama sang induk semang, dengan kekuatan Fulus yang dimiliki nampaknya tinggal nunggu waktu saja si Anak nakal menjelma menjadi Malin Kundang.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *