Moderasi Beragama: Identitas dan Masa Depan Islam di Indonesia

  • Whatsapp
Spread the love

Ridwan Soderi, Lc

Sejarah agama-agama di seluruh dunia, terutama ketika melalui tahap perkembangannya secara institusional maka dapat kita cermati tidak ada yang bersih dari jejak luka kemanusiaan dalam sejarah, baik luka itu telah lama kering, maupun kembali basah. Namun secara generik, tidak ada satupun ajaran agama bermaksud untuk menoreh luka dalam sejarah manusia, sebab agama lahir untuk kemanusiaan itu sendiri. Terlebih Islam, tidak ada perselisihan keyakinan kita sebagai umat Islam, bahwasanya Islam par excellence merupakan rahmat bagi segenap petala alam:

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

(QS. Al-Anbiya: 107)

Rahmat dimaksud sebagaimana kita sama-sama memahami, merupakan bentuk aktif dari sikap kelembutan yang berpadu dengan rasa iba (Lihat Lisânul Arab, Ibnul Mandzur). Atau dalam pemahaman lain kata rahmat biasa disebut sebagai kasih sayang. Jadi kalimatnya memiliki makna yang jernih, tidak ada perselisihan dalam memaknai kata rahmat atau rahmah. Linear dengan pemahaman tersebut, maka dapat kita katakan bahwa diutusnya Nabi Muhammadb adalah kasih sayang Allahkkepada seluruh alam, khususnya manusia. Sebagaimana Rasulullahb katakan langsung dalam sebuah hadits: إنما أنا رحمة مهداة

Namun dalam realitas sejarah, terlebih di akhir zaman seperti sekarang, seakan kita sulit menemukan konstruksi Islam yang kongruen antara doktrin dan sejarah peradaban. Terlebih pasca peristiwa 9/11 New York –yang mengakibatkan masifnya opini negatif terhadap Islam, di seluruh dunia. Pada tahun-tahun itu kita masih dapat mengingat, bagaimana secara bertubi-tubi identitas pelaku teror selalu dilekatkan dengan Islam, kemudian secara simultan diikuti gejolak politik di kawasan Timur Tengah, yang kerap disebut sebagai Arab’s Spring.

Indonesia sebagai negara muslim –bukan negara Islam– terbesar dengan sejarah moderasi Islam termasyur yang diakui oleh banyak kalangan pun ikut terimbas, dan akhirnya tak dapat mengelak dari anggapan negatif tentang Islam ketika terjadi peristiwa Bom Bali tepat satu tahun setelah 11/9 New York. Kita pun terhenyak dan mulai terbangun berkaca diri, ada apa dengan wajah keislaman kita di Indonesia? Sebab ini semacam anomali dalam tradisi dan sejarah panjang perkembangan Islam di nusantara, dari mulai rintisan Islamisasi di nusantara sampai menjadi humble majority among plurality, terlebih kita bangsa Indonesia yang terbentuk dan terinspirasi oleh negara Madinah dengan semangat persaudaraan dalam keberagamaan yang dicontohkan Rasulullahb. Jika Nabi mencontohkan Piagam Madinah sebagai common ground bagi masyarakat Yastrib yang plural, maka Indonesia memiliki Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang merupakan identitas bangsa Indonesia di semenanjung nusantara.

Setelah para ulama dan tokoh-tokoh moderat di Indonesia, baik dari kalangan sipil maupun pemerintahan mulai mengidentifikasi dan melakukan kajian-kajian maka “jerawat” dalam wajah keislaman Indonesia yang ramah itu mulai diketahui penyebabnya. Bukan hal yang aneh ternyata, sebab memang bangsa Indonesia sejak lama memiliki tradisi hemisperik menjelajah ke segala penjuru dunia dengan tujuan-tujuan damai seperti perdagangan dan menuntut ilmu –terutama ilmu agama, termasuk Islam. Dari sana juga kemudian dapat dilacak secara genealogis, mata-rantai atau sanad pengajaran Islam yang diterima oleh para pelaku teror atas nama Islam, berbekal hal ini pula, pihak keamanan di Indonesia mulai dapat melakukan diteksi dini dengan mengidentifikasi jaringan-jaringan yang terafiliasi. Bukan hal mudah untuk melihat dengan jernih segala kompleksitas yang melapis tebal wajah perkembangan Islam di Indonesia hari ini. Terlebih bagi kebanyakan jema’ah yang awam dan karakter umum bangsa Indonesia yang ramah dan senantiasa husnudzon terhadap pihak liyan. Kompleksitas ini ternyata juga bukan hanya masalah terorisme, namun berbagai praktek dan ekspresi keislaman yang menyimpang dan terlanjur diterima dan berkembang di tengah-tengah umat Islam di Indonesia.

Kita sadar sepenuhnya bahwa yang kita hadapi hari ini dan ke depan adalah zaman di mana pertukaran informasi dan ideologi, berikut segala fitnah duniawiyah menjadi suatu hal yang begitu mudah diakses dalam gawai cerdas yang digenggam hampir oleh seluruh umat Islam dari segala lapisan usia dan sosial. Jika sebab itu kemudian saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air, saudara-saudara kita sesama Muslim terdampak dan mungkin akan saling berhadap-hadapan. Maka akan menjadi dilema dalam menjaga keharmonisan kehidupan berbangsa dan beragama di Indonesia. Namun kita –terutama para da’i yang tergabung di MUI— tidak boleh menyerah dalam menyongsong masa depan Islam di Indonesia, untuk terus mensyiarkan wajah moderasi Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam, wajah muslim Indonesia yang hanif, wasathiyah yaitu Islam yang mampu bertahan di antara realitas dan idealitas, menjaga keseimbangan antara keyakinan (akidah Islam) yang kokoh dengan semangat toleransi yang teguh.

(Penulis ialah Pengasuh Ponpes Mardhotillah Jakarta Timur)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *